[Makassar] Manisnya Kota Angin Mamiri (Day 1)

makassarqq1

Akhirnya kesampaian juga menginjakan kaki di tanah Sulawesi, dan tujuan-nya adalah Kota Makassar. Sesampainya di bandara Sultan Hasanuddin ternyata partner perjalanan gw si Traveling Cihuy sudah sampai setengah jam lebih awal. Karena kita berdua memakai pesawat paling pagi jadi hal berikutnya yang kita lakukan adalah melakukan ritual pagi di WC bandara. Setelah puas melakukan ritual pagi, langkah selanjutnya yang diambil adalah mencari pintu keluar bandara dong pasti, biar kita bisa pergi ke tempat lain, sambil sedikit photo-photo suasana bandara akhirnya ketemu juga pintu keluarnya. Dan dengan pede-nya berasa di Jakarta, kita langsung menuju loket bis Damri. Padahal kita juga masih ga tau nanti bis Damri-nya akan sampai mana, lewat mana dan berhenti dimana (hahaha). Tapi tuhan masih menyayangi kita berdua sehingga kita sampai di jantung kota Makassar dengan selamat.

bandara

Setelah check-in hotel, dan tanpa buang waktu lagi  kita langsung sarapan Pallu Basa Samalona (laper Man baru sarapan roti pesawat doang). Selesai sarapan, matahari hari itu ternyata sedang semangat-semangat nya bersinar. Setelah melalui diskusi yang alot, sealot daging di Pallu Basa yang barusan kita santap, akhirnya kita sepakat ke tempat yang lagi sangat “IN” di kota ini, yang tak lain dan tak bukan adalah TranStudio. TranStudio ini terdiri dari atas Mall dan Indoor Theme Park atau taman bermain, jadi kalau diliat dari luar itu mall ini sangatlah besar.

Mirip orang yang masa kecilnya kurang kasih sayang, gw dan Traveling Cihuy kegirangan ga bisa diam kayak bocah. Sampai si Septi geleng-geleng sambil cengar-cengir ngeliat kita (oiya hampir kelupaan kalo si Septi ini adalah temen kantor nya si Traveling Cihuy yang dapat penempatan di Makassar dan dia inilah yang kita beri kehormatan untuk menjadi guide kita selama disana). gw aja heran kenapa kelakuan kita bisa kayak gitu, padahal di transtudio ini wahananya di dominasi wahana untuk anak kecil *tepok jidat.

transtudio1

transtudio3 transtudio

 

Setelah puas bermain di transtudio dan berkeliling mall, ternyata diluar mall sang matahari pun masih belum mengurangi semangatnya. Maka dimulai lah diskusi baru untuk menentukan mau dibawa kemana perjalanan kita ini. Mungkin karena diskusi kita yang sangat menguras pikiran tersebut menyebabkan perut menjadi lapar, yang menyebabkan diskusi diakhiri dengan suara bulat untuk melanjutkan perjalanan ke  Konro Karebosi untuk makan siang.

Makan siang sudah, dan matahari tampak mulai bersahabat. Tanpa basa-basi lagi, kita langsung menuju daerah pantai. Benteng Rotterdam jadi pilihan tujuan kita sekarang, sebuah benteng bersejarah tempat pengasingan Pangeran Dipenogoro  yang berlokasi di pesisir pantai Losari. Heran dan kagum ketika masuk ke benteng ini karena tak ada pungutan biaya yang memaksa hanya seikhlas-nya saja dan mengisi buku tamu. Gw kira dengan penarikan dana yang seadanya, benteng ini akan tidak terawat, ternyata benteng ini sangat terawat dan bersih. Dengan sigap kamera langsung gw keluarkan untuk memotret keindahaan benteng ini. Benteng ini juga cukup populer untuk kongkow-kongkow pemudi-pemudi makassar (sori ya gw ga begitu peduli sama pemuda-pemuda nya).

rotterdam5

rotterdam4

Dengan sinar matahari yang semakin tenggelam, sinar oranye-nya membuat benteng rotterdam ini semakin manis dan melankolis (suiitt..suittt). Karena jam kunjungan yang sudah mau habis, kita meneruskan menikmati tenggelamnya matahari di dermaga sederhana yang terbuat dari kayu tepat di seberang benteng.

pantai

langit

Setelah seharian jalan-jalan akhirnya kita balik ke hotel untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan malam ini. Setelah istirahat dirasa cukup,  kita rencananya akan nongkrong di pinggiran pantai Losari. karena tenaga yang baru saja diisi, kita (tanpa ditemani Septi) dengan pedenya memilih berjalan kaki untuk ke pantai losari, tuhan akhirnya menghukum kita orang-orang yang sotoy di tanah orang, dengan suksesnya kita salah belok dan nyasar ke arah pelabuhan kargo yang juga tempatnya para penjaja cinta berkumpul (hampir aja khilaf kalau gak keinget budget yang ga seberapa).

Yang tadinya pengen berhemat dengan jalan, karena nyasar dan kelelahan akhirnya keluar duit juga buat naek taksi untuk ke Losari. tapi sebelumnya agar tidak terjadi kebodohan lagi kita menemput guide kita si Septi. Sampai di losari lanjut photo-photo sedikit di anjungan Losari yang terkenal, langsung kita cari warung pisang epe yang nyaman untuk nongkrong.

Losari

(Cont..)

Advertisements

Leave a comment

Filed under Traveling

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s