Kesucian Sebuah Perayaan

Waisak 2013

Perayaan ritual keagamaan yang biasanya identik dengan suasana sakral dan penuh khidmat, kadang ternodai karena keunikan dari ritualnya itu sendiri. Keunikan tersebut dapat menarik banyak manusia baik yang merayakan atau hanya sekedar ingin menonton, dan pada akhirnya menodai kekhidmatan dari perayaan itu sendiri.

Waisak di Candi Borobudur adalah salah satu perayaan agama yang unik yang ada di Indonesia, salah satu ritual yang banyak menyedot pengunjung adalah pelepasan lampion. Keindahan dari 1000 lampion lebih yang terbang bersamaan di langit malam dengan latar belakang candi borobudur yang eksotis, merupakan pemandangan langka yang mungkin hanya dapat dinikmati pada perayaan Waisak saja.

Selama ini Waisak di Candi Borobudur diselenggarakan tertutup untuk para Bhuddis yang merayakan dan para undangan, tetapi beberapa tahun kebelakang perayaan tersebut dibuka untuk umum. Dan pada tahun 2013 ini pun gw jg datang untuk melihat perayaan tersebut.

Terbayang di otak gw, perayaan ini selain khidmat juga akan sangat eksotis dan indah. Tetapi semua bayangan itu hilang, karena ketika gw sampai, situasi disana sudah cukup chaos. Pintu masuk ke Candi ditutup aparat, dan para pengunjung bersorak-sorak agar pintu dibuka. Bila digambarkan hal ini seperti rusuhnya pintu masuk GBK bila Tim Indonesia sedang bertanding.

Sekitar jam 8 malam pihak penyelenggara membuka pintu untuk pengunjung umum, dan situasi chaos pun berlanjut di dalam komplek candi.  Saat itu perayaan Waisak akan memasuki acara sambutan yang diisi oleh Kepala Biksu, Gubernur Jateng dan Menteri Agama. Disinilah terlihat kurangnya toleransi antar umat di Indonesia, para pengunjung sibuk menyoraki nama Menteri Agama dan nama Gubernur Jateng yang disebut oleh pembawa acara, padahal saat itu prosesi doa masih tetap berlangsung.

Tidak sampai disitu saja ke-chaos-an terjadi. Pada saat ritual doa telah selesai dan akan diteruskan dengan ritual para Biksu dan Bhuddis mengelilingi Candi Borobudur, banyak dari para pengunjung mencoba untuk memasuki candi untuk bisa mengikuti ritual tersebut. Pihak penyelenggara sampai kewalahan untuk memperingati pengujung untuk tidak memasuki Candi.

Yang terakhir adalah ketika pihak penyelenggara menginformasikan bila acara pelepasan lampion dibatalkan karena hujan. Sorak sorai kekecewaan pengunjung terdengar keras. Gw yakin para Biksu dan Bhuddis yang sedang merayakan hari besarnya tersebut sangat terganggu pada tingkah laku para pengujung tersebut.

Kita sebagai orang Indonesia yang sudah dari kecil belajar PMP, PPKN atau apalah nama pelajaran itu harusnya bisa lebih menghormati agama orang lain, baik dalam keseharian atau saat ritual keagamaan. Gw membayangkan sebagai muslim, bila ketika gw merayakan Idul Fitri dan banyak orang dari kepercayaan lain ikut menonton dan berbuat seperti saat Waisak kemarin, gw pasti akan tersinggung dan marah.

Tetapi semua yang terjadi di Waisak Borobudur 2013 hanya bisa jadi pelajaran bagi kita semua agar bisa lebih saling menghormati antar umat beragama, dan gw berharap Waisak Borobudur ditahun-tahun berikutnya dapat diselenggarakan lebih baik, meskipun harus menutup kembali perayaan tersebut dari umum.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Opini, Traveling

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s