Category Archives: Kuliner

[Yogyakarta] Mie Persis – Telap 12

Yogyakarta – Menu Telap 12

Admit it, tiap kali lo liat iklan mie instan, pasti di bayangan lo langsung pengen makan mie lengkap dengan topping yang sama persis di iklan atau di bungkus mie instan tersebut.

Ide itu lah yang diambil oleh pemilik warung mie Telap 12. Mereka menyajikan mie instan mirip dengan topping yang terlihat di bungkus mie instan tersebut. Jadi kalau di bungkus terlihat ada 3 buah potong tomat, mereka juga menyajikan dengan 3 tomat tidak kurang-tidak lebih.

Menurut pendapat gw pribadi, ini adalah salah satu tempat makan yang sangat-sangat overrated yang pernah gw kunjungi. Ini ibarat buka puasa, ketika lapar mata lebih mendominasi otak kita.

Untuk ukuran warung seukuran tersebut bisa dibilang pengunjungnya sangat ramai, sampai harus mengantri untuk dapat tempat. Pelayanannya bisa dibilang lambat, karena harus menata mie sesuai gambaran pada bungkus mie yang ternyata cukup memakan waktu. Untuk rasa, ya so-so lah. Apa sih yang diharapkan dari rasa sebuah mie instan yang biasa kita makan. Walaupun ditambah topping sesuai gambaran bungkus mie, tapi itu ga banyak membantu menaikan kualitas rasa.

Yogyakarta – Mie Persis Telap 12

Mungkin kalau bisa memberi nilai seperti dosen memberi nilai pada mahasiswa, warung mie Telap 12 ini akan memberi nilai C-/C.
Tapi gw akan kasih nilai A++ untuk orisinalitas ide dan telah memuaskan angan-angan banyak orang untuk menyicipi mie instan yang mirip ada di iklan-iklan.

Leave a comment

Filed under Kuliner, Wara-Wiri

[Yogyakarta] Gudeg Yu Djum

Yogyakarta - Yu Djum

Sebenernya ngebahas warung makan ini udah basi. Karena sudah banyak blog dan acara tv yang membahasnya. Memang sudah menjadi rahasia umum kalau warung makan ini menjadi tempat favorit bagi wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Maka postingan gw kali ini akan sangat singkat, padat dan mudah-mudahan berisi.

Jadi Warung Gudeg Yu Djum ini cabang nya banyak banget, tapi yang asli itu letaknya berada di gang sempit belakang selokan mataram. Konon katanya ini adalah rumah asli si Yu Djum, makanya bentuk dan suasananya masih tradisional dan Jogja banget. Di pintu masuk kita sudah disuguhi musik keroncong dari sepasang pemusik tua. Di dalam warung makin terasa aura tradisionalnya, apalagi kalau menyambangi dapurnya yang masih menggunakan tungku kayu bakar.

Yogyakarta – Dapur Yu Djum

Jenis gudeg yang disajikan di Gudeg Yu Djum ini adalah gudeg kering. Apa bedanya sama gudeg basah? Ya bedanya yang satu areh (kuah yang dari santen) nya banyak,dan yang satu ga ada. Untuk rasanya ga perlu dijabarin lagi, karena Gudeg Yu Djum (menurut pengamatan gw) adalah gudeg paling terkenal di Yogyakarta, jadi dari situ sudah bisa ditebaklah rasanya.

Leave a comment

Filed under Kuliner, Wara-Wiri

[Wonosobo] Mie Ongklok Longkrang

Wonosobo - Warung Mie Longkrang

Salah satu kuliner yang paling disukai orang Indonesia itu adalah mie. Mau itu mie rebus, mie goreng, mie becek, mie instan ataupun mie sangat instan yang bikinnya cuma diseduh air panas.

Apalagi mie itu adalah kuliner yang sangat fleksibel, bisa dimasak campur apa aja, bisa dimakan lagi bosen sama makanan sehari-hari, bisa dibeli pas lagi bokek atau lagi ada duit,dan cocok untuk segala cuaca (walaupun yang paling pas ya dimakan lagi cuaca dingin).

Di salah satu kota di Jawa Tengah yang beriklim dingin bernama Wonosobo juga punya kuliner mie khas yang disebut mie ongklok. Dan mie ongklok yang terkenal disana adalah mie ongklok longkrang, yang terdapat di Jalan Pasukan Ronggolawe no. 14 Wonosobo. Mie ongklok longkrang ini kata yang empunya sih sudah ada dari tahun 1975 dan sudah banyak dikunjungi oleh orang tenar dan selebriti Indonesia.

Menurut pendapat gw pribadi, mie ongklok ini sangat unik. Karena kuah mie ongklok ini teksturnya kental mirip sagu dan dicampur dengan bumbu kacang. Selain itu makanan pendampingnya juga cukup unik yaitu sate sapi dan tempe kemul (tempe mendoan). Dan untuk orang-orang yang suka pedas, disini tidak disediakan sambal tapi potongan cabe rawit.

Mie ongklok longkrang ini sudah bisa dinikmati dari jam 10 pagi dan sampai jam 7 malam. Jadi yang untuk traveler-traveler yang sedang bertandang ke daerah Wonosobo atau Dieng bisa sejenak menikmati kuliner ini.

Wonosobo -  Mie Longkrang

Leave a comment

Filed under Kuliner, Wara-Wiri

[Makassar] Wisata Kuliner Kolesterol Tinggi

Iga bakar dan es pisang ijo, siapa yang ga kenal dengan 2 makanan khas kota Makassar tersebut. Menyantap makanan tersebut di restoran-restoran yang ada di Jakarta aja udah nikmat banget, apalagi kalau bisa menikmati langsung di tanah asalnya. Makanya sejak pertama kali si  Traveling Cihuy mencetuskan untuk traveling ke Makassar, di otak gw cuma satu “Wisata Kuliner”.

Dari yang gw liat, Kuliner di Makassar didominasi oleh kuliner daging dan seafood dan gw tidak menemukan kuliner khas yang berbahan utama sayuran. Makanya kenapa judul postingan ini  adalah “Wisata Kuliner Kolesterol Tinggi. Berikut kuliner-kuliner khas makassar yang sempat gw coba kenikmatannya.

Kuliner pertama  iga bakar di restoran Konro karebosi di Jalan Gunung Lompobattang. Mungkin ini adalah kuliner paling tersohor dari Makassar dan di kota lain pun sudah banyak restoran yang menawarkan menu kuliner ini, jadi gw ga perlu jelasin panjang lebar tentang makanan ini. Restoran Karebosi sendiri memiliki cabang di Jakarta, tepatnya di daerah Kelapa Gading. Jadi untuk orang Jakarta ya ga perlu jauh-jauh ke Makassar kalau mau nyobain.

MakassarFood4

Yang kedua adalah pallu basa, disana gw nyobain di dua restoran berbeda Pallu Basa Samalona di Jalan Irian dan Pallu Basa Srigala di Jalan Srigala, kuliner berbahan dasar daging kerbau dengan kuah santan yang dicampur serbuk kelapa sangrai. Biar makin enak biasanya ditambah alas (telor ayam mentah) untuk yang suka. Warna kuah pallu basa yang kental coklat kehitaman+kuning kental dari telor mentah memang kurang menarik, tapi rasanya itu Makknyuuussss banget.

MakassarFood2

Coto Makassar di restoran Coto Nusantara di Jalan Nusantara, daging yang dipakai adalah daging sapi dan dikuah nya ada campuran tauco nya, biasanya temen untuk makan coto ini adalah ketupat atau juga buras. Tapi gw ga bisa kalau makan tanpa nasi jadi ya pilihan gw tetep nasi. Hehe.

MakassarFood3

Berikutnya adalah restoran Mie Titi di Pusat Kuliner Losari, masakan yang terdiri dari mie kering dan kuah kental berisi daging ayam, baso goreng, dan daun sawi. Mirip kuliner nya orang China yaitu ifumie atau juga mungkin memang si Bu Titi ini memang menyajikan ifumie tetapi dengan bumbu-bumbu ala Bu Titi sendiri, karena itu sekarang terkenalnya jadi Mie Titi saja (ga tau juga sih, cuma sekedar teori gw saja). Nah untuk orang-orang yang cacing perutnya punya kebiasaan berdemo di malam buta, mi titi ini cocok banget karena bukanya sampai jam 2 Pagi.

MakassarFood1

Untuk cemilan malam di pinggir pantai losari yang jadi pilihan utama adalah pisang epe. Ini hampir mirip sama pisang bakar yang biasa kita temuin, bahan dasarnya pun sama-sama pisang kepok. Jadipertamapisang kepoknya inidipanggang dan digepengin, setelah itu kita harus milih topping nya, untuk yang original itu cuma diberi kuah gula merah. Untuk yang lebih modern pastinya kita bisa pakai keju, susu, coklat atau kacang seperti pisang bakar kebanyakan.

MakassarFood5

Yang terakhir dan ga kalah terkenalnya yaitu es pisang ijo-nya Toko Bravo, yang katanya sih es pisang ijo ter-enak di kota Makassar. Disitu juga menjual jalangkote (pastel ala Makassar) yang dimakan dengan saos asam pedas mirip saos cakwe. 

MakassarFood6

Harga:
Iga Bakar Konro Karebosi : IDR 36.000
Pallu Basa Samalona : IDR 9.000
Pallu Basa Srigala : IDR 11.000
Coto Makassar, Nusantara : IDR 12.000, Ketupat: IDR 1.000
Pisang Epe : IDR 7.000 (original), IDR 9.000 (coklat keju)
Mie Titi : IDR 18.000
Es Pisang Ijo : IDR 15.000
Jalangkote: IDR 3.500

3 Comments

Filed under Kuliner, Wara-Wiri

Dinginnya Bandung, Hangatnya Darah Ular

Dihari terakhir gw menjadi mahasiswa di Bandung(wisuda). Gw tutup dengan mencicipi kuliner ekstrim yang udah lama buat penasaran. Bareng 2 orang teman seperjuangan dari SMA sampai kuliah yang udah niat dateng ke wisuda gw disela-sela kesibukan kerja mereka.

Kuliner kali ini kami akan berburu darah ular kobra, yang udah tidak asing di telinga para pecinta kuliner ekstrim dan pecinta kuliner penambah stamina, yaitu darah ular. Setelah pencarian info ke kerabat, kolega dan para sahabat, akhirnya didapat restoran bernama Istana Raja Cobra  yang terletak Di Jln. Jenderal Sudirman No.319, Yang katanya sih udah lebih dari 35 tahun jualan kuliner ular.

Calon SantapanPengambilan Darah UlarProses Pengulitan

Setelah bertanya-tanya pada pemilik resto dan diskusi singkat, akhirnya kami memesan darah ular kobra untuk masing-masing, 1 porsi piton goreng, dan 1 porsi sup ular.

Sekarang gw akan menggambarkan rasa dari masing-masing menu yang kami pesan. Pertama darah kobra, disini pikiran pertama gw dan mungkin kebanyakan orang rasanya bakal amis atau pahit seperti rasa darah atau empedu pada umumnya. Tapi itu ternyata ga terbukti karena campuran ramuan darah kobra tersebut terdiri dari darah ular(pastinya), empedu ular(yang ini juga kayaknya pasti harus ada), madu, dan arak, nah dari semua bahan-bahan itu yang paling mendominasi adalah rasa arak dan madunya. Jadi menu darah kobra ini bisa dibilang punya rasa yang enak (mungkin karena gw emang suka rasa madu dan minum arak :D).

Berikutnya piton panggang dan sup ular. Jujur ini yang bikin kaget, walopun bentuk piton gorengnya ga menarik tapi pas dirasain taunya dagingnya sangat mirip daging ayam. Supnya juga kayak gitu, dengan daging ularnya yang disuwir-suwir di dalam sup tersebut jadi bisa dibilang rasa dan bentuknya amat mirip dengan sup ayam.

Di restoran tersebut selain menjual ular juga menjual banyak lagi makanan-makanan ekstrim laennya, seperti biawak, monyet, dan kalong. Tapi sayang karena duit didompet yang terbatas maka kita cuma mencoba santapan ular aja. Semoga laen kali bila ada waktu dan biaya gw bisa berkesempatan kembali  dan mencoba kuliner-kuliner ekstrim tsb.

OK, abis minum darah uler selanjutanya kita jajal gimana khasiatnya di”tempat laen”. 😀

1 Comment

Filed under Kuliner

Bakmi Gang Kelinci

Bakmi Gang Kelici

Bakmi Gang Kelici

Gang Kelinci. Gw kira dulu cuma judul lagu karangannya Titiek Puspa, taunya malahan Titiek Puspa yang terinspirasi buat lagu dari gang kelinci ini.

Gang Kelinci adanya di daerah Pasar Baru. Dan di gang itu ternyata bukan cuma terkenal lagunya aja, tapi disitu juga ada yang namanya Bakmi Gang Kelinci yang udah lumayan tenar di dunia per-kuliner-an.

Dari menu bakmi disitu emang ga jauh beda sama restoran bakmi lainnya, kayak mie ayam, mie bakso, mie pangsit, mie goreng, nasi goreng, dll.

mie bakso & es jeruk

mie bakso & es jeruk

Tapi karena menu nya sama bukan berarti rasa mie nya juga sama, karena emang ada yang khas dari rasa mie-nya. Lebih gimana gitu rasanya..haha.. Gw ga tau juga sih bumbu apaan yang bikin beda, karena emang gw ga ngerti sama bumbu-bumbu masak, tapi kalo menurut lidah gw sih emang beneran ada yang khas dari rasanya.

kalo untuk masalah harga sih, dibilang mahal ga juga soalnya emang kayak harga rata-rata restoran bakmi laennya, dibilang murah juga ga bisa soalnya berhubung gw mahasiswa berduit pas-pasan..hehe..

tapi bukan masalah harga sih disini intinya, tapi menyangkut keinginan nyoba kuliner-kuliner yang belom pernah gw coba udah cukup terpuaskan.

11 Comments

Filed under Kuliner

Sate Kuda Gondolayu

sate kuda gondolayu

baca tulisan difoto dari kanan ke kiri..

setelah melakukan penelaahan/observasi/pembacaan ulang dari postingan gw yang ber-title “November di Yogyakarta”,,
ternyata..eh..ternyata masih ada yang kurang dari cerita tersebut..
dan bagian cerita yang kurang itu menurut gw adalah yang paling penting..

Sebagai salah satu pecinta kuliner, gw melakukan ke-khilaf-an yang sangat besar,,
karena ga memasukan sebuah cerita kuliner jogja yang unik di telinga dan di lidah yaitu “Sate Kuda”..

mungkin emang di “November di Yogyakarta” udah sedikit di sindir masalah angkringan(nasi kucing) dan nasi langgi,,
tapi kedua jenis nasi itu gak semenarik dan seunik dibanding kuliner yang satu ini “sate kuda”..

rasa penasaran gw akan sate kuda berawal dari kunjungan gw ke jogja tahun 2006..
tapi sayang saat itu gw belom sempet nyicip kuliner satu ini..

setelah 2 tahun menunggu..
dasss..akhirnya taun 2008 ada kesempatan buat mengunjungi jogja lagi,,
saat itu langsung gw agenda-kan untuk berburu sate kuda adalah salah satu tujuan utama gw di jogja..

agenda utama ini gw realisasi-kan setelah mengunjungi keraton jogja, dkk..
dengan suasana sore joja yang dingin karena ujan turun dengan derasnya,,
saat itu adalah waktu yang tepat untuk icip-icip sate kuda..

tampilan sate kuda siap santap..

tampilan sate kuda siap santap..

tempat makan kuda yang gw pilih berjudul “warung sate kuda gondolayu”..
dengan bermodal Rp.8000 gw udah dapet nasi+sate kuda(5 tusuk)..

weits… jangan protes soal harganya yang mahal..
jangankan dagingnya, susunya aja mahal bener,,
wajar-lah kalo kuda mahal, soalnya kuda ga sebanyak sapi ato ayam..

dari pengamatan gw selama pengolahan sate kuda ini,
pertama-tama sate direndem dulu ke kuah yang mirip kecap selama 5-10 menit..
jadi di awal-awal gw kira bakal sama kayak sate kambing..
taunya perkiraan gw itu salah..

waktu sate udah mateng dan siap disantap,
bumbunya gw ga tau apaan tadi yang dipake buat rendeman, tapi yang pasti bukan kecap..
soalnya bumbunya yang meresap di daging kudanya tuh gurih bener..kalo kata om bondan mah “maknyusss”..

untuk tekstur daging kuda mirip sama daging kambing, karena sedikit alot dan serat daging nya kasar-kasar..
tapi untuk rasa lebih mrip ke daging sapi, karena ga amis kayak daging kambing..
tapi yang pasti abis makan sate kuda, badan jadi panas kayak kalo abis makan sate kambing..

dan satu lagi yang paling penting bagi para pria…
daging kuda katanya juga untuk penambah stamina,,
stamina buat apakah itu??tebak sendiri..

demikian review kuliner pertama gw..
gw akan kembali dengan kuliner-kuliner lainnya..
Salam “MakNyusssss”

9 Comments

Filed under Kuliner